Make your own free website on Tripod.com

FIRMAN MINGGU

RENUNGAN & KOTBAH MINGGU ESTOMIHI ( Pra Paskah ke -7 )

MINGGU , 22 February 2004

UUUUU

Firman : Matius 5 : 38 - 48 

Nats : Matius 5 : 39

Pembaharuan Tata Nilai Kehidupan

 

Saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus , Tidak ada kehidupan yang tanpa hukum dan peraturan . Suku bangsa yang paling primitif sekalipun mengenal hukum dan peraturan walaupun dalam bentuk yang sederhana , bukan merupakan hukum tertulis , sehingga dalam kehidupan modern barangkali dianggap ketinggalan jaman .

         Dengan bertambah majunya peradapan manusia , diciptakanlah hukum dan peraturan yang lebih mendetail dan meliputi segala bidang kehidupan . Termasuk juga dalam kehidupan beragama . Semua hukum dan peraturan diciptakan itu semua untuk menata kehidupan manusia , supaya manusia dapat hidup dengan baik . Perlu dipahami bahwa hukum dan peraturan yang diciptakan itu dibuat dengan semangat dilakukan , dan bukan untuk dilanggar . Selain itu juga harus disadari bahwa yang terpenting dari setiap hukum dan peraturan adalah jiwa atau semangat dari hukum dan peraturan itu . Mentaati hukum dan peraturan hanya berdasar kalimat hukum hanya akan menghasilkan sikap legalitis dan orang dapat bermain main atau berdebat tentang makna kata - kata , sementara manusia dapat kehilangan jiwa atau semangat hukum terebut . Merupakan suatu kenyataan bahwa orang seringkali memahami dan menafsirkan dengan kacamata kepentingan sendiri .

         Dalam mentaati peraturan hukum dan agama , tanpa m,emahami dan menangkap jiwa hukum dan peraturan tersebut hanya akan menghasilkan orang - orang yang kaku , kering , formal dan bahkan munafik . Dalam kaidah inilah Firman Tuhan kali ini akan mengajak jemaat untuk memahami jiwa dan semangat pembaharuan yang dibawa oleh Yesus dalam tafsirannya mengenai hukum Taurat .

         Jemaat Tuhan yang terkasih , perikop kita kali ini merupakan rangkaian kotbah Tuhan Yesus di atas bukut . Dalam bagian ini Tuhan Yesus menafsirkan secara baru bagaimana hukum Taurat tersebut . Agaknya dalam bagian ini , Sabda Yesus mencapai puncaknya dalam hal kesulitan untuk ditaati . Apa yang dikatakanNya bertolak belakang langsung dengan pandangan dan norma pada umumnya . Tidak mustahil bahwa Sabda Yesus ini menimbulkan banyak pertanyaan dan pesimistisme , bahkan di kalangan para pengikutNya ( kaum Kristiani ) sendiri .

        Pada ayat ke 38 , pada awalnya hukum ini adalah untuk mengatur asa keadilan . Sebelum ditemukan hukum ini , pembalasan dendam sangat merajalela dan tidak dibatasi . Orang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh sesamanya , dapat melampiaskan pembalasan sekehendak hatinya . Jelas pola kehidupan masyarakat yang sedemikian tidak akan membawa kesejahteraan dalam masyarakat . Di kemudian hari para hakim menemukan hukum bahwa ' mata ganti mata , gigi ganti gigi " sebagai sebuah ketetapan yang adil . Sekali lagi ditetapkan batasan yang eksak terhadap suatu kesalahan . Seorang hakim perlu menetapkan aturan ini bagi setiap orang . Jadi ada fungsi ganda dari hukum ini , yakni pertama soal keadilan , dan kedua tentang pembatasan pembalasan dendam .

         Dalam praktek selanjutnya , agaknya hukum yang semula berlaku dalam bidang pengadilan ini dibawa oleh para ahli Taurat dan orang - orang Farisi dalam kehidupan pergaulan antar pribadi dengan tujuan yang menyimpang dari maksud semula . Bila dimaksud semula hukum itu adalah untuk membatasi pembalasan dendam ( yang tidak terkendali ) , oleh para ahli taurat justru dipakai untuk membenarkan balas dendam . Jelas penerapan hukum ini sudah menyimpang dari maksud aslinya . Itu disebabkan dalam ayat berikut Tuhan Yesus mengatakan pendapatNya tentang hal ini .

         Pada ayat ke 39 , menuruy Yesus , prinsip yang mendasar kehidupan bersama bukanlah prinsip keadilan semata , namun prinsip kasih . Pada batasan keadilan tidak bisa berbuat , kasih akan mampu terus berjalan . Dengan tegas Yesus mengatakan bahwa walaupun orang berbuat jahat kepada kita , dianjurkan bahwa kita tidak bleh melawannya namun lebih pada kita harus mengasihinya . Dengan contoh yang jelas Ia mengungkapkan bahwa bila kita ditampar pipi kita , kita harus memberikan pipi satunya lagi , dan kita tidak bolh membalasnya , nmun kita harus mengasihi orang yang menampar pipi kita .

         Jelas ajaran ini sulit , bahkan sulit untuk kita lakukan . Kekuatan manusia kita acapkali tidak mampu menanggung beban emosi kita . Oleh karena itu benar apa yang pernah dikatakan oleh seseorang bahwa membalas kbaikan dengan kejahatan adalah tabiat iblis , membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusia , membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat Illahi . yesus mengajarkan kepada para pengikutNya supaya mereka bertumbuh dalam tabiat Illahi , sebagai anak - anak Bapamu yang ada di Sorga .Dalam praktek , banyak orang kristen yang mencoba menerapkan prinsip ini seara ketat . Mereka tidak membalas kejahatan sesamanya , mereka mau mengalah bahkan mau berkorban lebih banyak lagi . Yang menjadi masalah adalah bukan sekedar "memberi pipi sebelah untuk ditampar orang lain" namun bagaimana cara mengasihi orang yang menampar , itu soalnya .Kadang - kadang ayat ini juga didiskusikan sebagai tanda kelemahan para pengikut Yesus , namun bukankah justru orang yang kuat yang sanggup melaksanakan perintah Yesus ini .

         Ayat 40 - 42 dengan 3 macam contoh tindakan , Yesus menegaskan lagi prinsip mengalah dan cinta kasih . Ia mengajarkan supaya orang bersedia berbuat lebih dari sekedar mentaati apa yang wajar . ia mengarahkan para pengikutNya untuk berbuat lebih jauh dari itu . Ia mengajarkan supaya mereka tidak sekedar hidup lumrah , namun lebih tinggi dan mengatasi hal itu .

         Sebenarnya apa yang diajarkan Tuhan Yesus ini bukanah suatu yang baru bagi orang Yahudi . Pastilah mereka mengenal nasihat lama ( Amsal 25 : 21 ) yang kemudian dikemudian hari dikutip oleh Rasul Paulus , yang berbunyi : " Jilakalu seterumu lapar , berikanlah ia roti , jilakau ia dahaga beriaklah ia air ".

         Ayat 43 - 47 , lagi - lagi Yesus memberi contoh tindakan yang lebih dari yang biasa . Mengasihi sesama dan membenci musuh adalah tindakan yang biasa , namun Yesus mengajarkan kita supaya kita mengasihi musuh dan mendoakan mereka . Jelas ini merupakan perintah yang berat yang menghantam sifat manusia yang alami .

         Yesus menegaskan bahwa orang mengasihi mereka yang mengasihi , dan berbuat baik hanya kepada yang berbuat baik , itu sangatlah wajar bagi manusia . Yesus menegaskan kepada para  pengikutNya , bahwa tidah ada standart moral ganda bagi manusia , satu untuk teman / saudara , satu untuk musuh . Semua orang adalah sama , siapapun mereka ( Tidak seperti orang Yahudi yang mempunyai batasan - batasan tentang sesama ) .

         Hal berbuat baik kepada sesama in juga diungkapkan Yesus pada perumpamaan orang Samaria yang baik hati . ( lukas 10 : 25 - 37 ). Sesama adalah orang yang barang kali tidak ada sangkut pautnya dengan kita yang berbeda agama , ras ataupun golongan . Dalam kaitan ini , doa syafaat yang tulus untuk musuh kita merupakan keberanian yang besar bagi para pengikut Yesus . Dan in pula yang dilakukan Yesus di atas kayu salip ketika Ia memohon kepada Allah Bapa-Nya supaya orang yang menyalipNya diampuni . Bila para pengikutNya mau berbuat demikian , menunjukkan bahwa mereka benar - benar anak - anak Bapa di Sorga .

         Ayat ke 48 " Haruslah kamu Sempurna...." merupakan perintah Yesus . Ia tidak sekedar menghimbau ( hendaklah ) namun dengan tegas Ia mengatakan kita harus sempurna ... seperti Bapa sempurna , Namun siapa yang sanggup ? . bagaimanapun standart yang tinggi harus ditetapkan . Para murid Yesus harus menjadikan Bapa di Sorga sebagai contoh / teladan dan bukan manusia . Tentu saja bukan maksud Yesus untuk menciptakan dunia yang sempurna tanpa dosa . Yang berbahagia , menurut Yesus adalah yang selalu lapar dan haus akan kebenaran , yakni mereka yang seleranya sealu ingin hidup benar dihadapan Allah , yang mengarahkan hidupnya senantiasa kepada Allah , dan yang mempunyai kerinduan yang besar untuk hidup sebagaimana Allah hidup . Semangat itulah yang selalu coba dipraktekkan dalam kehidupan moral , dan tindakan etis sehari - hari .

         Akhirnya saudara - saudara yang terkasih , bagaimanapun juga para murid Yesus diajak untuk terus berusaha mencapai standart kehidupan sebagai anak - anak Allah Bapa di Sorga , dan tidak berusaha untuk memperlunak target . Yang menjadi penting bukanlah berhasil atau gagal , tapi kerinduan yang terus menerus untuk mengarahkan hidup kepada Bapa di Sorga , yang mengarahkan kita kepada kesempurnaan itu . Juga jangan berusaha untuk hanya melaksanakan hukum dan perintah Allah , sejauh kita senang atau merasa mampu melakukannya , namun dengan penuh kerinduan , kita senantiasa lapar dan dahaga akan kebenaran .

Tuhan Yesus senantiasa memberkati kita sekalian .

Amin....

 

 

index | tentang kami | profil pendeta | firman minggu | agenda kerja | buku tamu